Mengapa Kitab Al-Muwaththa Imam Malik bukan Rujukan Utama, Padahal Masanya Dekat dengan Nabi?

Table of Contents

Diringkas dari tanya jawab oleh Ust. Dzulqarnain

Kitab al-Muwaththa itu adalah salah satu rujukan penting di tengah umat Islam.

Imam Malik ( رحمه الله تعالى ) termasuk Tabi'ut-tabi'in. Karena beliau meriwayatkan dari gurunya Nafi' langsung dari Abdullah ibn Umar ( رضي الله عنهما ) . 

Beda dengan penulis Kutubus-Sittah al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasai, Ibnu Majah.

Mereka dua “tabaqat” di bawah Imam Malik.

Misalnya al-Bukhari, beliau meriwayatkan hadis Imam Malik. Beliau biasanya pakai perantara Abdullah bin Yusuf Ibn Qa’nab al-Qa'nabi.

Kalau Imam Muslim biasanya dari perantara Yahya bin Yahya at-Tamimi an-Naisaburi.

Kalau Abu Daud beliau biasanya pakai perantara Abdullah bin Yusuf at-Tinnisi ad-Dimasqi. Baru sampai kepada Imam Malik.

Jadi Imam Malik tidak diragukan lebih dekat masanya kepada Nabi ï·º.

Ketika al-Muwaththa itu ditulis, Imam Syafi'i ( رحمه الله تعالى ) berkata bahwa kitab yang paling shahih adalah kitab Al-Muwaththa.

Tapi setelah munculnya Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, jadilah dua buku ini (menurut kesepakatan ulama) adalah buku yang paling shahih setelah al-Qur'an.

Hal tersebut kembali kepada banyak kriteria. Dan kriteria yang paling pokoknya, Imam al-Bukhari dan Imam Muslim mensyaratkan keshahihan pada kitab mereka.

Keshahihannya itu bukan dilihat hanya pada sudut bersambung riwayatnya saja (di mana seorang murid harus mendengar dari guru). Tapi juga kesahihannya diukur dari:

  • Identitas dan kredibilitas dari rawi tersebut,
  • Dari kekuatan hafalannya dan sebagainya.
  • Dipastikan tidak ada “illah”, tidak ada cacat pada riwayat tersebut.


Hal tersebut membuat dua kitab ini lebih menonjol dari al-Muwaththa Imam Malik ( رحمه الله تعالى ) . Karena di al-Muwaththa ada riwayat-riwayat yang merupakan “Balagat”.

Jadi Imam Malik berkata,

"Balagani ‘an Rasulullah ï·º..."

"Telah sampai kepadaku bahwa Nabi ï·º berkata begini..."

Imam Malik tidak menyebut sanadnya kepada Nabi ï·º. Dan ini banyak berulang di al-Muwaththa.

Hal itu di antara sebabnya.

Lebih dari hal tersebut, ada pembahasan di buku-buku besar terkait dengan ilmu Mustalah Hadist.

___


Sumber: